Pembeli adalah Raja? Tidak Sepenuhnya Benar!

benarkah pembeli adalah raja

Benarkah ungkapan Benarkah Pembeli adalah Raja? Ungkapan ini ada benarnya, tapi tidak selalu demikian, karena ada kondisi dimana penjual lah yang menjadi raja.

Pada dasarnya pembeli dan penjual berada pada derajat yang sama, tidak ada pihak raja maupun pelayan, karena kedua belah pihak saling membutuhkan satu sama lain. Pembeli butuh barang atau jasa si penjual dan penjual butuh keuntungan dari hasil barang yang dibeli oleh pembeli/pelanggan.

Kondisi saling membutuhkan ini sangat terasa di zaman dahulu kala, ketika belum ada sistem jual beli dengan alat tukar, yaitu dengan cara barter. Barang ditukar dengan barang lainnya.

Kapan Pembeli Menjadi Raja dan Kapan Penjual Menjadi Raja?

Kondisi ini sebenarnya relatif, tergantung situasi dan kondisi.

Tapi memang di era sekarang notabene pembeli adalah raja. Ini karena banyaknya persaingan penjualan, sehingga pembeli atau pelanggan memiliki keleluasaan memilih dimana ia harus membeli barang yang ia inginkan.

Kondisi ini memaksa penjual untuk memperlakukan pembelinya seperti raja, dengan memberikan layanan dan harga terbaik. Sehingga pelanggan merasa nyaman membeli pada penjual tersebut, dan tidak pindah ke lain hati.

Namun tidak jarang kondisi ini berbalik, penjual menjadi raja dan pembeli sebagai pihak yang membutuhkan.

Penjual menjadi raja ketika barang atau layanan yang ia jual tidak banyak tersedia di pasaran. Disaat itu tidak ada pesaing bagi dirinya, sehingga ia tidak perlu memberikan pelayanan ekstra kepada pembeli. Karena tanpa layanan ekstra pun mereka akan tetap membeli.

Tapi tentu saja, sebagai manusia yang berakhlak, kita tetap harus memperlakukan sesama manusia, baik sebagai pembeli maupun penjual dengan akhlak yang baik. Sehingga bisnis tidak hanya untung tapi juga berkah. Betul?

Bagaimana dengan Anda? Anda tipe yang mana?

Scroll to Top
Copy link
Powered by Social Snap